Minggu, 15 Januari 2012
fotografi
dimana hasil jefretan ku,mulai dari kamera handphone hingga,kamera DSLR dan SLR
Penelitian Bahasa Indonesia Anak Jawa
ini adalah penelitian q di Universitas Kanjuruhan Malang, dimana untuk melengkapi mata Kuliah Sosiolinguistik.yang sudah berpengalaman jika ada yang salah mohon maaf, dan mohon komentarnya.
KATA PENGANTAR
Seperti yang kita ketahui bahwa bahasa indonesia anak jawa dikampus sering sekalai kita dengar bahwa cara mereka berbicara dengan menggunakan bahasa Indonesia ,tetapi kita tidak tahu bahwa pada saaat mereka bicara bahasa Indonesia dengan dialek mereka terdapat perbedaaan yang tidak kita ketahui, padahal ketika mereka berbicara itu terdapaat perbedaan fonologi, morfologi, sintaksis, kosa kata dalam bahasa Indonesia .
Materi dalam penelitian ini sangat diharapkan agar kita mempunyai wawasan yang luas mengenai fonologi dalam fonologi, morfologi, sintaksis, kosa kata dalam bahasa Indonesia .yang disurvei pada anak-anak jawa ketika mereka berbicara bahasa Indonesia.
Menyadari akan kelemahan makalah yang saya teliti ini , baik dari sei teori maupun dari segi metode metodenya.maka penulis sangat menggharapkan kritik dan saran pembaca makalah peneltian ini ,demi perbaikan makalah ini maupun demi perkembangan ilmu pada umumnya.
Akhirnya kepada para pembaca dan para pengkritik, penulis mengucapkan terimah kasih yang sebesar-besarnya.
Malang, Desembet 2011
Fajrie Januansyah
1. fonologi
Fonologi adalah ilmu ysng mempelajari salah satu cabang linguistic yang mempelajari seluk beluk bunyi bahasa yang di ucapkan oleh alatucap manusia,disini ditinjau dari segi bahasa Indonesia anak jawa di kampus universitas kanjuruhan Malang yaitu,
Bahasa Indonesia Baku | Bahasa Indonesia dialeg jawa |
Bodoh | Bodoh |
Nomor | Nomer |
Kalau | Kalou |
Lara | loro |
Biar | Biyar |
buat | Buwat |
Anak | Anak? |
Buta | Wuta |
Zaman | Saman |
Lalat | Lalet |
Manusia | Manungso |
Pakai | Pakek |
Batu | Mbatu |
Gresik | Nggresik |
Panic | Kancil |
Bulu | wulu |
Inilah contoh sedikit contoh dari fonologi dari bahasa indonesianya orang jawa dikampus Universitas Kanjuruhan Malang,dimana pada contoh yang Semua vokal kecuali /ə/, memiliki alofon. Fonem /a/ pada posisi tertutup dilafazkan sebagai [a], namun pada posisi terbuka sebagai [ɔ]. Contoh: /lara/ (sakit) dilafazkan sebagai [l'ɔrɔ], tetapi /larane/ (sakitnya) dilafazkan sebagai [l'arane]
Fonem /i/ pada posisi terbuka dilafazkan sebagai [i] namun pada posisi tertutup lafaznya kurang lebih mirip [e]. Contoh: /panci/ dilafazkan sebagai [p'aɲci] , tetapi /kancil/ kurang lebih dilafazkan sebagai [k'aɲcel].
Fonem /u/ pada posisi terbuka dilafazkan sebagai [u] namun pada posisi tertutup lafaznya kurang lebih mirip [o]. Contoh: /wulu/ (bulu) dilafazkan sebagai [w'ulu] , tetapi /ʈuyul/ (tuyul) kurang lebih dilafazkan sebagai [ʈ'uyol].
Fonem /e/ pada posisi terbuka dilafazkan sebagai [e] namun pada posisi tertutup sebagai [ɛ]. Contoh: /lele/ dilafazkan sebagai [l'ele] , tetapi /bebek/ dilafazkan sebagai [b'ɛbɛʔ].
Fonem /o/ pada posisi terbuka dilafazkan sebagai [o] namun pada posisi tertutup sebagai [ɔ]. Contoh: /loro/ dilafazkan sebagai [l'oro] , tetapi /boloŋ/ dilafazkan sebagai [b'ɔlɔŋ].
2. Morfologi
Ditinjau dari segi Morfologi,bahasa Indonesia anak jawa dikampus Universitas Kanjuruhan Malang ini terutama,saya juga memiliki perbedaan juga pada anak jawa dikampus,dimana kita ketahui bahwa morfologi itu adalahilmi yang mempelajraibentuk dan perubahan yang terjadi pada kata (imbuhan) ,Mathew (1974:1-2) menyatkan empat unsure pokok bahasa kajian secara deskriptif, yakni : bunyi, konstruksi, makna, dan bentuk kata,dimana bunyi dibahas oleh dua ilmi, yakni fonemik dan fonetik, konstruksi dibahasa oleh sintaksis, makna menjadi kajian semantic dan bentuk kata dikaji oleh morfologi, contoh dari morfologi sendiri yaitu
Bahasa Indonesia Baku | Bahasa Indonesia dialeg jawa |
Paru | Paru-paru |
Membangun | Membangunkan |
Makan | Memakan |
Sukses | Tersukses |
Garam | Bergaram |
Ditutup | Ditutupi |
Digambar | Digambari |
Main | Mainan |
Rumah | Rumah makan |
Contoh-contoh yang terpampang di atas, semuanya disebut kata. Namun demikian, struktur kata-kata tersebut berbeda-beda. Kata makan terdiri atas satu bentuk bermakna. Kata makanan, dimakan, dan termakan masing-masing terdiri atas dua bentuk bermakna yaitu –an, di-, ter- dengan makan. Kata makan-makan terdiri atas dua bentuk bermakna makan dan makan. Rumah makan pun terdiri atas dua bentuk bermakan rumah dan makan. Kata main, sama dengan kata makan terdiri atas satu bentuk bermakna, sedangkan kata mainan, bermain, main-mainan, permainan, memainkan masing-masing terdiri atas dua buah bentuk bermakna yakni –an, ber-, main, per-an, me-kan dengan main. Kata bermain-main terdiri atas tiga bentuk bermakna ber-, main, dan main.
Berdasarkan contoh di atas, kita dapat mengetahui bahwa bentuk-bentuk tersebut dapat berubah karena terjadi suatu proses. Kata makan dapat berubah menjadi makanan, dimakan, termakan karena masing-masing adanya penambahan –an, di-, dan ter-, dapat pula menjadi makan-makan karena adanya pengulangan, dapat pula menjadi rumah makan karena penggabungan dengan rumah. Perubahan bentuk atau struktur kata tersebut dapat pula diikuti oleh perubahan jenis atau makna kata. Kata makan termasuk jenis atau golongan kata kerja sedangkan makanan termasuk jenis atau golongan kata benda. Dari segi makna kata makan maknanya ‘memasukan sesuatu melalui mulut’, sedangkan makanan maknanya ‘semua benda yang dapat dimakan’.
3. Sintaksis
Kalau untuk sintaksis dapat kita ketahu bahwa sintaksis itu adalah Bidang sintaksis (Inggris, syntax) menyelidiki semua hubungan antar kelompok kata (atau antar-frase) dalam satuan dasar sintaksis itu. Sintaksis itu mnempelajari hubungan gramatikal di luar batas kata, tetapi di dalam satuan yang kita sebut kalimat (verhaar, 1981:70).Istilah sintaksis (Belanda, syntaxis) ialah bagian atau cabang dari ilmu bahasa yang membicarakan seluk beluk wacana, kalimat, klausa, dan frase (Ramlan, 2001:18),contohnya adalah :
Bahasa Indonesia Baku | Bahasa Indonesia dialeg jawa |
orang itu minum es kelapa muda | es kelapa muda itu dimunimum orang |
es kelapa muda itu dimunimum orang | korang sedang dabaca bapak |
rumah pekarangan | |
ayah ibu | Ibu ayah |
mobil ini masih bru | Masih baru mobil ini |
pembaharuan | Pembangunan |
belajar | bekerja. |
Frasa Endosentris Koordinatif, yaitu frasa endosentris yang semua unsurnya adalah unsur pusat dan mengacu pada hal yang berbeda diantara unsurnya terdapat (dapat diberi) ‘dan’ atau ‘atau’. Contohnya seprti yang diatasa yaitu ayah ibu,belajar,dan bekerja,
Contoh lain yaitu,dia rajin → rajin itu menguntungkan,anaknya dua ekor → dua itu sedikit, dan dia berlari → berlari itu menyehatkan,kata rajin pada kaliat pertam awalnya adalah frasa ajektiva, begitupula dengan dua ekor awalnya frasa numeralia, dan kata berlari yang awalnya adalah frasa verba.
4. Kosakata
Bahasa Indonesia Baku | Bahasa Indonesia dialeg jawa |
Akta | Akte |
Esai | Esei |
Kendaraan | Kenderaan |
Masjid | Mesjid |
Rabu | Rebu |
Senin | Snin |
Saksama | Seksama |
Sekadar | Sekedar |
Komplet | Komplit |
Nasihat | nasehat |
Kesimpulan
Berdasarkan pemaparan dari makalah pembahasan diatas maka adapun yang dapat ditarik sebagai kesimpulan pada halaman ini yaitu :
1. fonologi
Fonologi adalah ilmu ysng mempelajari salah satu cabang linguistic yang mempelajari seluk beluk bunyi bahasa yang di ucapkan oleh alatucap manusia.
2. Morfologi
Ditinjau dari segi Morfologi,bahasa Indonesia anak jawa dikampus Universitas Kanjuruhan Malang ini terutama,saya juga memiliki perbedaan juga pada anak jawa dikampus,dimana kita ketahui bahwa morfologi itu adalahilmi yang mempelajraibentuk dan perubahan yang terjadi pada kata (imbuhan) ,Mathew (1974:1-2) menyatkan empat unsure pokok bahasa kajian secara deskriptif, yakni : bunyi, konstruksi, makna, dan bentuk kata,dimana bunyi dibahas oleh dua ilmi, yakni fonemik dan fonetik, konstruksi dibahasa oleh sintaksis, makna menjadi kajian semantic dan bentuk kata dikaji oleh morfologi.
3. Sintaksis
Kalau untuk sintaksis dapat kita ketahu bahwa sintaksis itu adalah Bidang sintaksis (Inggris, syntax) menyelidiki semua hubungan antar kelompok kata (atau antar-frase) dalam satuan dasar sintaksis itu. Sintaksis itu mnempelajari hubungan gramatikal di luar batas kata, tetapi di dalam satuan yang kita sebut kalimat (verhaar, 1981:70).Istilah sintaksis (Belanda, syntaxis) ialah bagian atau cabang dari ilmu bahasa yang membicarakan seluk beluk wacana, kalimat, klausa, dan frase (Ramlan, 2001:18)
1. Kosakata
Bahasa Indonesia Baku | Bahasa Indonesia dialeg jawa |
Akta | Akte |
Esai | Esei |
Kendaraan | Kenderaan |
Masjid | Mesjid |
Mohon Komentarnya,,heheh
(Fajrie januansyah) :):)
Cara Bahasa Indonesia Anak Jawa Di Kampus
ini adalah tugas saya dari
Mata Kuliah : Sosiolingustik
Dosen Pembina : Prof. Dr. Sumarsono, M. Ed
Mahasiswa di Universitas Kanjuruhan Malang yang dikatakan sebagai kampus multikulturar adalah salah satu kampus yang mempunyai banyak mahasiswa dari berbagai daerah,bias dibilang dari sabang sampai marauke, berhubung universitas ini Kanjuruhan Malang ini berada di Malang(Jawa Timur) jadi anak jawa lebih banyak daripada anak daerah lain,menurut survei atau penelitian yang saya lakukan di kampus Universitas Kanjuruhan Malang, untuk masalah bahasa anak jawa lebih banyak yang berbahasa Indonesia dibanding berbahasa jawa sendiri walaupun itu sedang berkumunikasi dengan teman jawanya,untuk cara mereka berbahasa Indonesia, tapi kebanyakan cara mereka berbahasa Indonesia masih menggunakan logat jawa mereka yang tidak bisa mereka tinggalkan,walaupun ada mahasiswa yang bisa berbahasa Indonesia dengan baik tapi itu hanya beberapa anak saja yang saya ketahui.tetapi cara mahasiswa jawa berbahasa Indonesia lebih suka mencampurkan bahasa Indonesia dan bahasa yang lain dibandingkan bahasa jawa sendiri.
Untuk bahasa Jawa sendiri anak di berbagai daerah di Jawa Timur, di perkotaan,apalagi di kampus- kampus saat ini jarang sekali memakai bahasa Jawa dalam berkomunikasi dengan sebayanya. Di kampus seperti Univeritas Kanjuruhan Malang misalnya, banyak mahasiswa yang lebih menggunakan bahasa Indonesia daripada bahasa Jawa, apalagi di kota-kota besar seperti Surabaya, Malang dan sebagainya. Di Universitas Kanjuruhan Malang , ketika saya berada di kampus, tidak heran lagi ketika mendengar banyak mahasiswa berbicara dengan bahasa Indonesia ketimbang bahasa Jawa. Di kalangan mahasiswa jawa, jangankan bahasa Jawa krama inggil ( krama halus), bahasa Jawa ngoko pun sudah jarang digunakan. Mereka cenderung menggunakan bahasa Indonesia. Bahkan, tidak jarang juga dicampur dengan bahasa Inggris dan bahasa gaul. Misalnya kata thank’s, please,unyuk-unyuk,beudd dan lain-lain.
Fenomena di atas terjadi karena para remaja tersebut mungkin merasa gengsi ketika di era globalisasi seperti sekarang ini masih saja menggunakan bahasa daerah. Bahkan, tidak jarang remaja yang beranggapan bahwa menggunakan bahasa Jawa adalah kuno. Ketika salah satu stasiun televisi di Jawa Timur mencoba mengangkat bahasa daerah (khususnya bahasa Jawa) dengan siaran-siaran yang menggunakan bahasa Jawa, para remaja itu justru menertawakan bahkan sampai terpingkal-pingkal. Mereka seolah lupa bahwa itu adalah bahasa mereka. Mau dikemanakan bahasa kebanggaan orang Jawa ini?
Parahnya lagi, para orangtua pun sekarang seolah ikut-ikutan gengsi mengajarkan bahasa Jawa kepada anak-anaknya. Mereka seolah lupa dengan bahasa daerahnya. Tidak sedikit orangtua yang sekarang lebih memilih untuk mengajarkan bahasa Indonesia atau bahkan bahasa Inggris kepada anak-anaknya yang masih balita. Di jaman sekarang hampir tidak ada orangtua yang mengajarkan bahasa Jawa krama inggil atau krama halus kepada anak-anaknya. Tinggal kita tunggu saja kapan bahasa Jawa akan punah.
Memang suatu kebanggan ketika mempunyai anak yang bisa berbahasa Indonesia atau bahkan berbahasa Inggris dengan lancar di usia dini. Tetapi tidak seharusnya kita lupa untuk mengajarkan bahasa daerah kita kepada anak-anak. Yang terjadi, justru mereka melupakan bahasa daerahnya beserta fungsi-fungsinya. Mereka tidak mau tahu tentang apa fungsi bahasa daerah dari sisi yang lain.
Bahasa memang berfungsi sebagai alat pemersatu bangsa. Oleh karena itu bahasa Indonesia memang harus diajarkan atau digunakan dalam kehidupan berbangsa di Indonesia. Tetapi kita harus ingat bahwa bangsa Indonesia terdiri atas berbagai suku bangsa. Dan setiap suku bangsa memiliki bahasa sendiri yang juga akan menjadi simbol atau ciri khas dari suku bangsa tersebut. Di dalam bahasa Indonesia terdapat beberapa tingkatan, mulai dari ngoko, ngoko halus, krama halus, krama inggil dan seterusnya. Dari tingkatan-tingkatan tersebut akan menunjukkan tingkat kesopanan masyarakat Jawa. Dengan demikian, ketika kita tidak mengajarkan bahasa Jawa kepada anak-anak kita, maka secara tdak langsung kita juga tidak mengajarkan kesopanan kepada mereka.
Jangan heran kalau anak-anak muda jaman sekarang sudah jarang menggunakan bahasa daerahnya masing- masing,walaupun tidak menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar,dan terkadang dicampur dengan bahasa-bahasa yang lain,memang betul kita sebagai warga Negara Indonesia harus bisa menggunkan bahasa Indonesia yang baik dan benar, tapi juga kita jangan meninggalkan bahasa daeraah kita masing-masing sehingga bahasa daerah-daeraah di Indonesia tidak punah.
Langganan:
Komentar (Atom)


